Tanggal & waktu
Indonesia
Sabtu
Apr 2026
18
Jam
20:03:56
Selamat datang di Desa Sunia Kecamatan Banjaran Kabupaten Majalengka Provinsi Jawa Barat
Artikel / Sejarah Desa Sunia

Sejarah Desa Sunia

17 Dec 2025 08:32
oleh Admin
108 dibaca
0 komentar
Pada jaman dahulu kala hidupnya dua orang tokoh terkemuka yang tinggal di perkampungan, yaitu bernama Embah buyut SUNIANTAKA dan SUNIALARANG, adapun kepercayaannya yang menganut Agama Budha. Menurut cerita dari para sesepuh/tokoh Desa Embah Buyut Suniantaka mempunyai seorang anak perempuan yang teramat cantik dan dia mempunyai rambut yang sangat panjang, oleh karena kepanjangan rambutnya tadi, maka apabila putri tersebut akan mandi membersihkan diri atau keramas maka terlebih dahulu putri tersebut akan menyediakan alat gantungan yang terbuat dari bambu, hal tersebut dimaksudkan untuk mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi, putri tersebut adalah NYI RUNDAY KASIH.
Selanjutnya tidak jauh dari apa yang kita duga ternyata Nyi Runday Kasih mempunyai kepandaian dan kecantikan seperti halnya Embah Buyut Suniantaka, pada suatu ketika Nyi Runday Kasih menjelang dewasa datanglah seorang pemuda yang bermaksud mengawininya, menurut cerita pemuda tersebut berasal dari alam Ghaib dan pemuda itu mengajak pergi ke sebuah kolam yang dipinggirnya tempat peristirahatannya yang kita kenal namanya BALONG GEDE dan tempat pemadian di bawahnya atau dengan kata sunda CAI LANDEUH dan di sinilah Nyi Runday Kasih bersama pemuda tadi menghilang, namun salah satu hal yang dapat dikenang dari Embah Buyut Suniantaka dan Nyi Runday Kasih oleh Masyarakat Desa Sunia yaitu: Seperangkat alat kesenian yang diberi nama PANGLAKSA. Alat ini sampai sekarang masih dipergunakan dan masih aslinya peninggalan jaman dahulu dan dipergunakan pada waktu setelah panen tahunan yaitu setiap dua tahun sekali diadakan peringatan NGALAKSA yang kita kenal dengan PARERESAN, dengan upacara sebagaimana atas ketentuan dan persyaratannya yang di utamakan LAKSA, yang terbuat dari tepung padi terbungkus dari daun congkok dengan istilah sunda BALIUNG dan setelah dimasak kemudian dimasukan kedalam PANGLAKSA. Itulah suatu kepercayaan waktu dahulu hakekatnya telah terlaksana jatukrami antara putri dan pemuda tadi yang telah menghilang ditempat atau Balong Gede, dan satu keanehan tapi nyata sering terjadi rupanya serba kebetulan saja, pada waktu pelaksanaan membuat laksa kemudian ada orang laki-laki atau perempuan yang menyaksikan malamnya berbuat dengan bukan muhrimnya (bersetubuh) maka alat sex tersebut tidak akan terangkat oleh beberapa orang (sangat berat) dengan istilah sunda Gancet.
Pada waktu itu beliau sangat berjasa telah memikirkan perbaikan masa depan anak cucunya yang ternyata sampai sekarang terdapat Tiga Buah Batu disusukan demi adilnya dan tata cara pembagian air yang dinamakan saluran air SUSUKAN dan tiga buah batu tersebut sampai sekarang masih utuh aslinya dan tidak tergoyahkan meskipun bukan Betonan, dengan pesannya apabila meninggal pun agar dikuburkan disekitar tempat itu. Kemudian setelah meninggal Embah Buyut Suniantaka dan Sunialarang, maka datanglah seorang ulama bernama SYARIF HIDAYATULLOH yang baru saja datang dari Mekkah dan hendak mengajarkan Islam, namun dalam menjalankan penyebaran islam banyak hambatan dan rintangan bahkan banyak orang yang hendak membunuhnya, dengan kegigihan dan kesabaran juga kepandaiannya maka Syarif Hidayatulloh mampu mengatasinya sehingga ajaran Islam dapat berkembang di Desa ini (sunia). Selanjutnya Masyarakat Desa menamakan Desa "SUNIA" yang sekarang kedudukannya dipecah menjadi dua Desa yaitu Desa Sunia dan Sunia Baru sejak tanggal 18 Maret 1982.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan komentar

Komentar akan tampil setelah dikirim.

Artikel lainnya